Wirausaha Ala Sarjana

MENCERMATI tulisan opini yang dimuat pada Pos Kupang hari Senin 26 Agustus 2013, berjudul “Membongkar Rasa Malu” (Catatan Kecil Soal Kewirausahaan di NTT) yang ditulis oleh Bapak Isidorus Lilijawa, S.Fil, MM, saya sangat setuju sekali dengan apa yang telah disampaikan oleh beliau. Saya juga sering mendengar langsung dari mahasiswa yang sudah lulus tapi belum bekerja, mereka rela menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan ikut tes CPNS. Menjadi pegawai negeri masih menjadi pilihan primadona bagi sebagian besar masyarakat NTT. Mereka menyakini bahwa dengan menjadi pegawai negeri hidup menjadi tenang dan tentram alias terjamin khususnya untuk jaminan hari tua. Bahkan ada yang sudah bekerja sebagai pegawai di perusahaan swasta maupun perbankan rela keluar memilih menjadi pegawai negeri. Pemikiran seperti itu bisa dimaklumi kalau kita masih hidup ditahun 90-an, karena pada Zaman itu belum banyak perusahaan swasta, perbankan maupun bidang perhotelan yang berdiri, sehingga lowongan pekerjaan belum banyak dan harapan satu-satunya adalah menjadi pegawai negeri.

Namun seiring perkembangan Zaman keadaan sudah berubah dan harapan orang juga berubah, mereka menyakini bahwa dengan berusaha sendiri atau berwirausaha juga bisa mendapatkan hidup yang layak atau lebih sejahtera daripada menjadi pegawai negeri.

Berpendidikan Sarjana
Saat ini orang sudah sadar bahwa pendidikan itu penting, menjadi sarjana merupakan dambaan banyak orang, karena dengan berbekal ijaZah sarjana akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Baik itu sebagai karyawan perusahaan swasta maupun instansi negeri. Instansi negeri maupun perusahaan swasta banyak mensyaratkan bagi pelamar kerja minimal berpendidikan strata satu. Walaupun sudah banyak lowongan pekerjaan dibuka, namun tetap saja belum dapat mengatasi semua pengangguran karena setiap tahun perguruan tinggi meluluskan mahasiswanya. Karena jumlah lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya. Kondisi seperti itulah maka sebagai sarjana diharapkan tidak hanya sebagai pencari kerja namun lebih diharapkan bisa sebagai pencipta lapangan kerja.

Peran Kampus
Saat ini kurikulum untuk jenjang pendidikan strata satu, ada mata kuliah wajib yang harus diambil mahasiswa yaitu pengetahuan bisnis atau kewirausahaan. Melalui mata kuliah tersebut mahasiswa diberikan materi teori dan praktek untuk dapat menjadi seorang wirausaha. Salah satu kegiatan yang dipraktekan yaitu membuka Koperasi Mahasiswa (Kopma). Dalam wadah ini mahasiswa belajar bekerja dalam satu tim, mengatur keuangan, dan mengelola barang dagangan sehingga mendapatkan profit. Selain mata kuliah kewirausahaan khususnya pada Program Studi Sistem Informasi juga diajarkan mata kuliah pengantar manajemen, akuntansi, analisis proses bisnis, kecakapan antar personal dan etika profesi. Materi-materi yang diajarkan dikampus tersebut dapat menjadi pegangan atau dapat diterapkan didunia usaha atau bisnis. Inilah yang membedakan wirausaha lulusan sarjana karena dibekali ilmu yang banyak untuk dapat memulai usaha. Peran pemerintah terutama melalui Dirjen Dikti ikut serta merangsang jiwa kewirausahaan mahasiswa melalui berbagai program yang ditawarkan dengan pemberian dana maksimal Rp 12.500.000,- bagi proposal yang diterima yang diajukan oleh sekelompok mahasiswa. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini antara lain  PKM-Kewirausahaan, PKM-Teknologi, PKM-Pengabdian Pada Masyarakat. Program tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk menumbuhkembagkan kreativitas mahasiswa serta jiwa kewirausahaan.

Kemauan dalam Diri Sendiri
Rangsangan yang diberikan baik dari kampus maupun program pemerintah harusnya dapat menjadikan penyemangat dan modal ilmu untuk membangun bisnis. Namun semuanya itu tidak akan bermanfaat jika dari diri mahasiswa masing-masing belum mau membuka diri atau mempunyai keberanian memutuskan untuk berwirausaha. Salah satu faktor alasannya mungkin masih banyak yang bingung dan kesulitan menentukan bisnis apa yang akan digeluti. Ada satu kalimat yang dapat menjadi spirit motivasi yaitu “MASALAH ADALAH SUMBER PELUANG”. Tidak perlu jauh-jauh untuk menentukan produk atau bisnis apa yang akan diambil. Lihat di sekeliling kita, yang menjadi masalah bagi orang lain. Contohnya banyak orang tidak sempat sarapan, maka anda dapat mengambil peluang menjual bekal untuk sarapan seperti nasi kuning, nasi uduk, kue dan sebagainya. Banyak orang membutuhkan pulsa, Anda bisa menjual pulsa. Teman kos Anda sering mencari makanan dan minuman pada tengah malam dan kios jauh, Anda dapat menyediakan makanan ringan, mie instan, minuman instan di kamar kos Anda. Masih banyak lagi peluang usaha yang dapat dilakukan semuanya berawal dari hal kecil baru akan menjadi besar. Intinya adalah jangan terlalu lama berpikir tetapi cepat bertindak mengambil peluang tersebut agar dapat bersaing dan tidak diambil orang lain. *

Oleh Donna Setiawati, S.Kom, M.M
Dosen Tetap Prodi Sistem Informasi, Stikom Uyelindo Kupang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ six = 12

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>