Kewirusahaan Batik Berkembang di Yogyakarta

Pelatihan Kewirausahaan-TANGAN Intan seakan menari. Titik-titik itu ditorehkan dari canthing berisi lilin panas dengan sangat lincah dan terampil, di atas selembar kain mori. Namun Intan dan temannya Rika bukan sedang menorehkan lilin panas untuk motif klasik batik: sekarjagad, truntum, wahyu tumurun, parang/lereng, gringsing dankewirausahaan batik lainnya. Ketika proses panjang itu berlalu, yang muncul adalah sebuah kain untuk blus dengan gambar yang lain daripada yang lain: Nefertiti. Atau gaun bermotif kupu, mukena bermotif rumah gelombang dan lainnya. “Ini pesanan. Tanpa meninggalkan unsur batik, tapi gambarnya yang muncul adalah kontemporer,” ungkap Hj Vera Gozali, suatu pagi yang merupakan wirausaha di bidang Batik. Unsur titik dan garis memang tidak ditinggalkan. Bahkan produksi berlabel ‘Tawon Gung’ juga dilakukan sama persis dalam pembuatan batik secara tradisional. Dimulai dari mulai mola, nyanthing, mewarnai (dalam batik klasik disebut ‘nyoga’ dan nglorot.

Yang membuatnya berbeda kemudian karena karya itu tidaklah bermotif batik klasik, namun kontemporer dan berbeda dengan yang lain. “Kalau membuat produk bermotif klasik, kami kalah. Tentu kami harus berkarya dan berkreasi dengan kreatif dalam menembus pasar. Hasilnya adalah batik kontemporer dengan tetap menggunakan cara tradisional membatik,” jelas Vera, pekan lalu. Maka tidak perlu kaget bila produk yang dibuat dalam bentuk mukena, gamis, sprei, bedcover bahkan blus, sajadah, selimut bayi dan yang lain bisa bergambar perlengkapan dapur, rumah, moda transportasi, flora dan fauna, tanpa meninggalkan proses batik.

BATIK berasal dari kata ambatik, ambabar titik. Artinya, membatik adalah menorehkan titik-titik dari canthing berisi lilin panas, ke selembar kain mori yang sebelumnya sudah digambar (dipola) sehingga akan didapatkan motif atau gambar indah. Corak yang berbeda itulah yang membuat namanya – di dalam batik klasik – menjadi beragam. Di dalam budaya Jawa, motif itu memiliki simbol dan makna yang berbeda. Sehingga batik digunakan dengan motif berbeda, di dalam kesempatan yang berbeda pula.

Batik, dikategorikan ke dalam geometris dan non-geometris. Motif geometris dipahami dalam garis-garis seperti kawung, parang yang seringkali dimaknai sebagai simbolnya manunggaling kawula gusti. Sementara non-geometris terwujud dalam motif semen-semenan, hutan dan isinya serta yang lain yang menyimbulkan kehidupan yang tumbuh (semi).

Namun kini pengertian dan pemaknaan itu mulai pudar, mengiring perkembangan batik sebagai mode, fashion. Batik tidak lagi sekadar titik dan hanya dikenakan pada acara tradisi tertentu. Karena batik adalah titik yang telah berkembang antar-daerah, antar-masyarakat yang ada. “Pada konsep inilah kami menemukan pasar kami,” ungkap Vera. Karena produknya menjadi lebih bisa mengapresiasi keinginan masyarakat sebagai konsumen, yang ingin mengenakan dan menggunakan kain batik tulis dalam kesehariannya, juga lebih trendy dan fashionable.

Kecintaan pada upaya melestarikan batik tulis untuk karya kontemporer ini pulalah yang membuat Vera sebagai entrepreunuer mampu mengembangkan kegiatan tersebut sebagai sebuah industri dan memberdayakan masyarakat mulai pembatik, penyolet, penyelup bahkan hingga penjahit. “Di sini kami memang harus kreatif mengembangkan kemauan dan keinginan konsumen. Untuk memenuhi keinginan anak-anak kami mengembangkan gambar mobil, kereta-api, rumah-rumahan, bunga, huruf dan sejenisnya. Namun pernah kami harus membuat motif-motif etnik Toraja untuk memenuhi konsumen dari manca,” lanjutnya.

KREATIVITAS Vera dan kemampuannya mengembangkan wirausaha dan Kewirausahaan sejak beberapa tahun belakangan ini, bukanlah sebuah perjalanan yang mulus. Apa yang dihadapi sekarang adalah tantangan tersendiri bagi seorang wirausahawan yang bergerak dalam sektor industri kecil. Dan Vera dengan ‘Tawon Gung’ hanyalah satu di antara sekitar 50 juta usaha mikro yang dikelola rakyat. Ini adalah bagian sangat kecil mengingat data BPS menyebutkan bahwa sekitar 99% usaha Indonesia adalah usaha mikro, kecil dan menengah.

“Dan sebenarnya batik termasuk industri kreatif yang memiliki potensi tinggi dikembangkan, apalagi setelah pencanangan UNESCO. Ironisnya, perhatian pemerintah juga belum serius dalam nggarap batik,” ungkap peneliti UKM dari Fisipol UGM, Dr Hempri Suyatna. Hempri melihat bahwa cetak biru batik nasional masih hanya sekedar dokumen saja.

Di DIY yang konon sering disebut sebagai ‘pusat’ saja, diakui belum ada kewajiban mengenakan batik asal Yogya sendiri. Kalaupun sudah ada ketentuan setiap Sabtu mengenakan batik, disebut-sebut ‘masih bebas’ batiknya. “Yang sangat menyedihkan, pengenaan batik setiap Sabtu baik oleh pelajar maupun pegawai pemerintah itu masih bebas. Bahkan kini trend-nya, batik semakin banyak digunakan tapi sebagian besar adalah batik printing biasa disebut tekstil motif batik. Ini kan produk pengusaha-pengusaha besar bahkan produk impor dari China,” kata Hempri dengan nada prihatin.

Inilah ancaman yang tampak jelas di depan mata bagi pengembangan industri. Dalam acara gerakan program ‘Aku Bangga Memakai Produk Indonesia’ di Dharmawangsa Square Jakarta, Mei 2013 silam, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang mengungkap bila belanja batik Indonesia dari China sudah mencapai sebesar Rp 43 miliar selama tiga bulan terakhir ini. “Ini jelas menjadi ancaman besar bagi UKM dan industri di Indonesia. Pemerintah harus segera mengambil tindakan tegas untuk mengatasinya. Sangat mengerikan kalau batik dari luar tidak dibatasi. Jika pemerintah tidak waspada, industri batik rakyat Indonesia terutama yang dikelola UKM akan terancam. Wirausahawan Indonesia akan habis,” tandas Sarman Simanjorang sebagaimana dikutip TubasMedia.com.

Padahal kalau setiap daerah mampu membuat ketentuan tersebut, maka industri rakyat akan tumbuh dan dimungkinkan akan memunculkan wirausahawan baru, yang ingin berkiprah di sector industri kecil tersebut. Jika ini dilakukan pemerintah denga lebih serius, lebih terintegrasi dan terprogram baik, kekhawatiran menghadapi serbuan tekstil China motif batik, akan bisa dikurangi atau malah dihilangkan.

KEKHAWATIRAN serbuan ‘Batik China’ hanyalah satu di antara kekhawatiran akan sekian jenis serbuan lain dari negeri Beruang Putih tersebut. Masih banyak yang lain mulai mainan anak, kerajinan (craft) untuk souvenir, kerajinan kulit, plastic dan lainnya, yang dari hari ke hari terus bertambah jenis, model bahkan material-nya, yang masuk ke Indonesia.

Ini tidak lepas dari perjanjian ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA). Dan mau tidak mau sejak 1 Januari 2010, Indonesia harus membuka pasar dalam negeri secara bebas kepada negara-negara ASEAN dan China. Pembukaan pasar bebas ini merupakan wujud konkret implementasi perjanjian ACFTA enam negara anggota ASEAN (Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Brunei Darussalam) dengan China tersebut.

Artinya, kelak bukan hanya batik yang terancam. Namun ratusan bahkan ribuan jenis kegiatan atau industri usaha yang dikelola rakyat juga akan terancam. Apalagi pelbagai jenis kewirausahaan yang kian marak sekarang ini disebut Hempri belum tampak memiliki relevansi dengan industri rakyat. “Pemerintah belum benar-benar menjalankan secara serius misal kewirausahaan atau industri kreatif. Seyogyanya tiap daerah punya roadmap pengembangan industri kreatif. Tapi ternyata hal ini tidak ada,” lanjutnya.

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari semua ini? Harus segera dipotong kesan bila Pemerintah tidak memiliki desain teriterintegrasi dalam membangun keterkaitan industri rakyat dengan besar. Sehingga keberadaannya yang terpisah-pisah, tidak saling mendukung apalagi melengkapi, akan bisa dihindarkan. Mengingat sebenarnya sudah banyak program-program mengembangkan kewirausahaan baik dari pemerintah, perbankan, perguruan tinggi. Jika tampak belum bergandengan, karena selama ini harus diakui memang belum terkoordinasi secara baik.

Sudah banyak program yang digulirkan. Kita mengenal program business plan yang ditelorkan Kemenpora. Atau dari Dikti Kemendikbud dengan nama wirausaha mahasiswa, program kreativitas mahasiswa dari Dikti Kemendikbud. Sayangnya, pendampingan pasca kegiatan juga cenderung masih minim. Sehingga usai kompetisi, kegiatan yang dilakukan mahasiswa itupun ‘entah lagi’ ceritanya kemudian. Padahal misal Dikti Kemendikbud ketika memberikan beasiswa penelitian, pengembangan kewirausahaan dan lainnya untuk mahasiswa, juga bisa menggandeng Kementrian Perindustrian, Kemenpora, Kementrian Keuangan dan lainnya. Sehingga pengembangan ke depan akan lebih terprogram dan terintegarsi lebih baik.

“Sebenarnya kendala bukan hanya mentalitas wirausaha atau kerja kantoran masih jadi mindset orangtua. Tetapi banyak hambatan struktural seperti iklim yang belum kondusif misal pinjam harus dengan agunan. Banyak orang mau memulai wirausaha kan tidak penya modal dan mungkin juga agunan untuk pinjam ke bank. Fakta ini masih ditambah akses pasar yang kadangkali masih dimonopoli elite pengusaha,” ungkap Hempri Suyanta.

Artinya, jika kendala ini tidak dibongkar, pengusaha pemula bukan hanya jarang namun kecil kemungkinan mendapat kesempatan mengembangkan diri sebagai entrepreneur. Jadi, jangankan membangun industri rakyat, upaya mengembangkan wirausaha baru-pun menjadi mustahil. (Fadmi Sustiwi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ 5 = seven

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>