Kewirausahaan Berbasis Komunitas Belum Banyak Digarap

iwa bisnis yang dimiliki Presiden Direktur Greenaeration Indonesia, M. Bijaksana Junerosano atau yang akrab disapa Sano, membuatnya senang menekuni dunia kewirausahaan. Dalam sesi berbagi pada acara penyerahan beasiswa SDF di Ruang Serba Guna SDF Jl. Ir. H. Juanda 369 Komplek DDK No.1 Bandung, Sabtu (8/2), ia bercerita mengenai kewirausahaan serta pengalamannya dalam bidang tersebut. Terutama menjadi social enterpreneur. Menurutnya, masalah yang terjadi di Indonesia sangat banyak, seperti permasalahan sampah, kemiskinan, air bersih, dan lain sebagainya. Karena itu diperlukan orang-orang yang menjadi inisiator untuk mulai menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Salah satu permasalahan mengapa ia mengangkat topik “kewirausahaan sosial berbasis komunitas untuk membangun kesejahteraan Indonesia” adalah karena masyarakat Indonesia kebanyakan masih belum berkomunitas dengan baik.

Ia mencontohkan Komunitas Petani yang berhasil membuat Bank Petani pada tahun 2000. Saat ini, sudah ada 50.000 orang pemegang saham di bank tersebut yang semuanya adalah petani serta 200.000 orang konsumen. Menurut Sano, komunitas tersebut merupakan salah satu contoh positif, yaitu dengan membentuk kewirausahaan sosial.

Sano juga menyinggung permasalahan sampah terutama kantong plastik yang tak kunjung ditemukan penyelesaiannya. Masyarakat saat ini sudah kehilangan kesadaran untuk mengurangi pemakaian kantong plastik dan kebanyakan menggunakannya karena alasan praktis. Meskipun kepraktisan tersebut membawa banyak dampak buruk.

“Budaya konsumerisme dan budaya nyampah di Indonesia sudah luar biasa,” ujarnya.
Melalui program diet kantong plastik yang digagasnya bersama Greeneration Indonesia dan bekerjasama dengan beberapa pihak, delapan juta lembar kantong plastik dapat dihemat. Salah satunya menggunakan kantong yang dibuatnya untuk menggantikan peran kantong plastik.

Dalam acara tersebut juga hadir dua mahasiswa ITB yang merupakan juara Green Enterpreneur Challenge yang diadakan oleh ITB 83, yaitu Endah setianingsih (Farmasi 2010) dan Muhammad (Metrologi dan Instrumentasi 1).

Mereka menciptakan senuah inovasi tentang triogenik. Bagaimana cara mengawetkan makanan tanpa menggunakan bahan pengawet yang berbahaya, yaitu menggubakan Triogenik Powdering.
“Untuk membantu petani dalam mengoptimalisasikan hasil panen,” ujar Endah.

Tidak hanya mendapatkan beberapa hadiah dan kesempatan visiting industry ke Denmark, mereka juga berhasil menggaet incestor untuk inovasi mereka tersebut. Karena selain untuk dilombakan, mereka juga ingin hasil temuan tersebut dapat diaplikasikan pula di lapangan.
Selain berbagi mengenai pengalaman wirausaha, Sano juga memotivasi para tamu untuk mulai mencari potensi diri serta berusaha mencapai impian. Ia pun menjelaskan bahwa menjadi seorang enterpreneur juga dapat menjadi salah satu jalan yang tidak hanya bisa membangun kesejahteraan individu tapi juga masyarakat. “Jika gagal, terus coba. Orang sukses adalah orang yang mencoba sekali lebih banyak dari orang gagal,” tegasnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


3 − one =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>