Dahlan Iskan dan Semangat Kewirausahaan

Semboyan yang digunakan Dahlan Iskan adalah kerja,  kerja,  kerja.  Namun dalam kehidupan sehari-hari kita melihat banyak sekali orang yang bekerja siang dan malam.  Tetapi kerja keras mereka tidak menghasilkan perubahan apapun,  mereka tetap  berpenghasilan pas-pasan atau bahkan tetap berada dalam kemiskinan.

Oleh sebab itu, semboyan kerja, kerja, kerja Dahlan Iskan sebenarnya mencakup sesuatu yang lebih dalam yang berkaitan motivasi kerja yang sifatnya lebih kompleks, semangat untuk  menciptakan sesuatu yang baru (inovatif), kejelian dalam melihat peluang usaha dan dan keberanian mengambil resiko yang bersifat moderat. Itulah sebagian dari ciri-ciri orang yang memiliki semangat entrepreneurship atau kewirausahaan di dalam dirinya.

Dahlan Iskan terlahir memiliki semangat kewirausahaan yang sangat tinggi. Dulu, ia bekerja keras karena memiliki  motivasi yang tinggi untuk menjadikan Jawa Pos menjadi koran yang terbesar di Indonesia Bagian Timur. Karenanya oplah Jawa Pos harus meningkat dari waktu ke waktu, agar menyamai oplah Koran Kompas yang terbit di Jakarta. Untuk itu ia harus bekerja sambil secara terus menerus melahirkan ide-ide inovatif agar korannya diterima masyarakat.

Setelah sasaran tersebut tercapai, ternyata Dahlan Iskan tidak mau berhenti sampai di situ, seperti para pemimpin media pada umumnya.  Dahlan Iskan justru terus bekerja. Ia membangun jaringan kerja (network)  media dari Aceh sampai ke Papua yang kemudian disebut Jawa Pos Natonal Network (JPNN). Dari sana lahir lagi ide membangun pabrik kertas,  gedung pena,  televisi lokal dan sebagainya. Dari hasil kerja keras dengan semangat kewirausahaan yang  tinggi tersebut, Dahlan Iskan akhirnya menjadi konglomerat media di Indonesia.

Untuk memungkinkan semua ide invatif  tersebut dapat terwujud,  Dahlan Iskan memiliki keberanian untuk mengambil resiko.  Tentunya resiko yang sudah diperhitungkan secara cermat. Tanpa adanya keberanian mengambil resiko tersebut,  maka ide-ide inovatif hanya menjadi wacana.

Namun tidak selamanya keberanian mengambil resiko tersebut berbuah keberhasilan sebagaimana yang diharapkan. Keberanian mengambil resiko tersebut bisa juga membuahkan kegagalan alias kerugian. Itulah sebabnya, setiap wirausaha harus berani gagal. Dahlan Iskan menyebut kerugian karena kesalahan dalam mengambil resiko tersebut sebagai  biaya sekolah, meskipun mahal sekali. Dahlan pernah gagal dalam bisnis perhotelan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


one + = 7

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>